rereh

Just another WordPress.com site

“KEPERAWANAN dan NILAI KEIMANAN SEORANG WANITA” By : Rereh Yudi Harjadi @rereh_harjadi April 11, 2012

Filed under: Uncategorized — Rereh Yudi Harjadi @ 1:34 am
Tags: , , , , ,

Nilai Keperawanan dan Nilai Keimanan Perempuan juga bagaimanakah pandangan Islam akan Nilai Keperawanan.
(YANG MERASA PEREMPUAN BERIMAN dan BERPENDIDIKAN, WAJIB UNTUK MEMBACA !!!)
al quran
Malumu mahligai yang tidak perlukan senggasana

Tetapi ia menjada diri dan nama

Tiada siapa yang akan, boleh merampasnya

Meliankan kau sendiri yang pergi menyerah diri

[Hijjaz: Puteriku Sayang]

Akhir-akhir ini masyarakat terutama kaum wanita digegerkan dengan maraknya penjualan selaput dara palsu yang berasal dari Cina. Hadirnya kasus ini menuai berbagai kontroversi di kalangan masyarakat. Tidak hanya wanita, laki-laki pun merasa kehadirannya akan menipu mereka. Meskipun harga selaput dara palsu tersebut mencapai satu juta untuk satu kali pemasangan, namun dalam waktu beberapa hari saja, selaput dara palsu tersebut laku keras dan promosisya kian marak di dunia maya. Hal ini menujukan produk tersebut banyak diminati masyarakat.

Penjualan selaput dara ini memang terbilang unik. Bayangkan saja salah satu bagian terpenting dari organ wanita dan hanya dimiliki sekali dalam seumur hidup ini dapat diprosuksi besar-besaran dengan bantuan teknologi dan kemajuan kedokteran.

Selaput dara merupakan selaput tipis yang mengandung darah. Di antara fungsinya adalah untuk menutupi bagian kewanitaan saat masih gadis atau perawan. Selain itu, selaput ini juga yang memisahkan organ-organ reproduksi bagian luar dengan organ-organ reproduksi bagian dalam. Ia menjadi pintu alami bagi keluarnya darah haid yang datang setiap bulan.

Bentuk selaput dara ini memang beragam, ada yang bulat, melingkar, atau ada juga berbentuk lonjong. Selaput ini akan sobek saat terjadi hubungan intim untuk yang pertama kalinya. Robeknya selaput ini ditandai dengan keluarnya bercak-bercak darah, namun kadang ada pula selaput dara ini memiliki bentuk seperti daging atau karet yang tidak robek saat berhubungan. Biasanya, selaput dara semacam ini akan robek setelah wanita tersebut melahirkan. Selaput yang tipis dan kecil tersebut dalam istilah kesehatan disebut dengan hymen. Bagi setiap wanita, hymen Memiliki arti yang sangat besar, sangat berharga, dihormati, dan menjadi kepuasan bagi laki-laki.

Sebagaimana telah melekat kuat dalam pandangan masyarakat, keberadaan selaput dara juga identik dengan nilai keperawanan bahkan kesucian seorang perempuan. Dan akhir-akhir ini dengan sangat mencengankan, selaput dara dapat diproduksi dengan masal dan menjadi sangat murahan. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari pola hidup masyarakat yang begitu bebas dalam pergaulan. Tengok saja bagaimana masyarakat zaman sekarang dari yang kanak-kanak hingga tua renta, terutama remaja putri yang menjadi korban modernisasi dan liberalisasi.

Banyangkan saja dengan hadirnya hal tersebut, pastinya sex bebas akan semakin digandrungi para wanita terutama remaja putri. Prostitusi pun akan semakin tersebar dan penipuan terhadap para laki-laki pun akan marak terjadi. Selain itu, pastinya moralitas kaum perempuan akan semakin menurun dan ambruk. Yang paling utama, jika dulu selaput dara menjadi identitas kesucian seorang perempuan dan menjadi penilaian penting terhadap akhlak perempuan, dengan hadirnya selaput dara palsu ini, maka kemungkinan untuk saat ini hal tersebut tidak berlaku lagi.

Pada dasarnya, keperawanan dengan keutuhan selaput dara memang tidak harus selalu berkaitan. Ketidak utuhan tersebut tidak hanya dikarenakan oleh hubungan badan saja, tetapi bisa dikarenakan kecelakaan, terjatuh, gerak fisik yang berlebihan seperti olah raga, berkuda’ bersepeda dan sebagainya.

Keperawanan merupakan hal yang sangat penting bagi perempuan karena disitulah letak kesucian akhlak dan kesempurnaan iman. Namun demikian, mari lihatlah bagimana kenyataan hari ini dimana tidak sedikit perempuan yang mengumbar auratnya yang berharga. Pakaian yang semestinya dipakai anak usia lima tahu semakin digandrungi oleh gadis remaja dan lucunya ibu-ibu pun beramai-ramai mengenakan hal yang serupa. Bahkan yang paling menghawatirkan, tidak sedikit para wanita yang menyerahkan kegadisannya kepada laki-laki yang bukan suaminya. Mereka tidak akan lagi merasa malu ketika selaput daranya sudah terkoyak sebelum waktunya. Dengan adanya selaput dara palsu ini, tentunya mereka akan dengan mudah mengganti dan mengelabui siapapun. Apalagi dengan obat pencegah kehamilan yang kian marak dimasyarakat, tak pelak lagi akan mempermudah jalan menuju kemaksiatan.

Kenapa semua ini bisa terjadi? ternyata ini tidak lepas dari rasa malu yang terkikis dari jiwa manusia dan dalam hal ini terutama wanita. Padahal rasa malu merupakan nikmat Allah yang dikaruniakan sebagai mahkota kehormatan bagi manusia. Ia adalah prisai yang dianugrahkan untuk melawan syaitan dan nafsu. Kalau pakaian mampu menutup aurat lahir dan batin, maka jadilah rasa malu sebagai benang-benangnya. Malu jualah yang menjadi mahkota yusuf ketika dihadapkan pada tipu daya zulaikha. Hal tersebut juga yang menjadi perisai bagi Abu Bakar Al-Miski ketika seorang wanita mengajaknya berzina. Malu adalah pakaian Rasulullah yang dengannya beliau menjadi lebih terjaga dari pada gadis dalam pingitan.

“Seandainya Allah tidak menutupi perempuan dengan rasa malu, tentu ia lebih rendah daripada nilai sekepal tanah”(al-hadis). Jika rasa malu itu telah hilang, maka keimananpun dipertanyakan. Karena sebagaimana ucapan Rasulullah “al-haya’u minal iman” (malu itu sebagian dari iman). Bahkan diatara kalimat kanabian yang mula-mula adalah “ jika kamu sudah tak lagi memiliki rasa malu, lakukan apa yang kamu mau!” (HR. Bukhari)

Hadis diatas kita pahami tentu bukan pemberian ijin, persetujuan apalagi dukungan. Ini adalah perkataan yang ditajamkan agar mengoyak tabir keinsyafan, dan supaya terlahir kesadaran bahwa rasa malu merupakan benteng utama dalam melawan semua keinginan nafsu hewani manusia. Dengan dengan malu, keimanan dapat terjaga bahkan akan semakin bertambah.

Jika seorang sudah hilang rasa malunya, maka yang paling berhargapun dapat mereka hilangkan seperti halnya keperawanan bagi seorang perempuan. Jika seorang perempuan sudah hilang rasa malunya, secara praktis akan sirna rasa takutnya kepada Allah. Dengan demikian maka akan terjadilah seperti apa yang sekarang marak terjadi yaitu wanita mengumbar harga dirinya dengan sangat murah. Menyerahkan keperawanan kepada laki-laki yang bukan suaminya. NSa’uzubillah

Perempuan adalah makhluk yang istimewa. Allah SWT telah menciptakan wanita dengan selaput dara yang dimilikinya tidakalah bernilai Cuma-Cuma dan percuama. Keberadaanya adalah bukti keseriusan wanita dalam menjaga dan memelihara kesucian iman dan kegadisannya. Organ itu juga menjadi saksi bahwa dirinya tidak pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah sebagai mana telah menjadi hukum Allah.

Namun ketika hal itu terkoyak sebelum waktunya (kecuali alasan pemerkosaan, atau kecelakaan) patut kita pertannyakan dimana rasa malu yang merupakan cerminan perempuan. Dimanakah keimanan yang akan membuat akhlaknya semakin menawan dan dimanakah harga dirinya sebagai manusia yang di istimewakan. Maka wajarlah jika terdapat perempuan yang tidak menjaga harga diri dan keperawanannya dianggap tidak punya iman. Huallohu ‘alam. (Lena Mardiana).

BAGAIMANAKAH pandangan agama tentang keperawanan?

Drs. H. Seproni Hidayat, dosen STAI Yamisa Soreang mengatakan, sesungguhnya banyak hadis Nabi Muhammad saw yang menegaskannya pentingnya makna keperawanan bagi seorang gadis hingga Nabi Muhammad mewanti-wanti kaum pria untuk lebih condong memilih perawan.

Anjuran Nabi Muhammad untuk lebih memprioritaskan menikahi gadis meski tidak melarang untuk menikahi janda, menurut Seproni, bisa diartikan sebagai upaya ajaran Islam lebih melindungi kaum wanita dari perbuatan zina. “Selain itu, dengan menikahi gadis yang masih perawan juga timbul gairah bagi pasangannya sekaligus menghilangkan sak wasangka negatif terhadap perempuan yang menjadi jodohnya,” jelasnya.

Malah Seproni memaknai pemilihan faktor kecantikan seorang perempuan juga bisa diartikan lahir dan batin termasuk faktor keperawanannya. “Jadi, salah apabila wanita atau kaum pria tidak lagi memandang penting arti sebuah keperawanan. Entah apa jadinya apabila gadis di Indonesia seperti gadis AS yang merasa lebih bangga apabila tidak lagi menjadi seorang perawan. Bukankah bangga tidak perawan lagi berarti hubungan di luar nikah atau zina juga merebak di masyarakat?” ujarnya. Padahal, ajaran Islam dengan tegas-tegas menyatakan “walaa taqrabuzzinaa” (jangan mendekati zina) yang bermakna luas bukan hanya sebatas melakukan hubungan di laur nikah, melainkan juga berdekatan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya (ada hubungan keluarga yang tak boleh dinikahi). “Dengan demikian ajaran Islam lebih banyak mencegah terjadinya sebuah perbuatan atau preventif. Mendekati zina saja tidak boleh, apalagi melakukannya,” tegasnya.

Menurut Psikolog Drs. Kadwi Djamuati, M.Pd., bila sebuah penelitian mengungkap bahwa ada anak perempuan usia 12 tahun yang telah melakukan aktivitas seksual menandakan masyarakat semakin permisif terhadap masalah seksual. Seks bebas yang dilakukan pada pranikah merupakan kurangnya pemahaman tentang pentingnya virginitas itu sendiri serta kurang adanya kontrol sosial.

Menjadi tidak mengherankan pula ketika hasil penelitian di Yogakarta, Jatinangor, dan Kab. Bandung, datanya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para remaja AS. Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa waktu lalu dengan melibatkan 505 remaja AS berusia 15-17 tahun, sebanyak 26 persen remaja menyatakan bahwa oral seks merupakan bagian dari hubungan kencan, sebanyak 23 persen lainnya menyatakan bahwa oral seks merupakan tipikal dari hubungan biasa atau istilahnya “cuma mampir”, sedangkan 27 persen responden lainnya menyatakan hubungan kencan hampir selalu atau kebanyakan melibatkan juga hubungan seksual dan 24 persen responden menyatakan hubungan seksual biasanya merupakan bagian dari sebuah hubungan biasa.

Namun, ada penelitian lain terbaru yang menyebutkan bahwa belakangan kalangan remaja di AS ada kecenderungan mulai meninggalkan perilaku seks bebas dan kembali ke hubungan konvensional dengan lebih mempertahankan dan mengharga “kesucian” atau “keperawanan” mereka hingga masa pernikahan. Ini tentu saja perkembangan baru yang justru malah menimbulkan ironi bagi remaja di Tanah Air. Ketika remaja di luar negeri, khususnya AS, sudah mulai “jenuh” dengan gaya kehidupan yang lebih kental dengan free sex dan kembali menghargai nilai-nilai keperawanan, justru remaja kita malah meninggalkan nilai-nilai yang menghargai keperawanan untuk kemudian mencoba terjun ke gaya kehidupan seks bebas. Jika begitu, salah siapa?

Bagaimanakah mencegah agar keperawanan tetap terjaga?

Sejumlah narasumber Hikmah mengatakan, caranya sangat banyak, tetapi semuanya itu bergantung pada faktor keseriusan perempuan yang bersangkutan dan lingkungan pergaulannya. Dari aspek perempuannya, berkaitan dengan sejauh mana persepsi terhadap nilai-nilai keperawanan, sedangkan lingkungan pergaulan berhubungan dengan interaksi sosialnya dengan lawan jenis, khususnya sang pacar.

Sementara itu, pakar seks Boyke R. Dian Nugraha menyarankan agar para remaja selalu rajin memakai celana panjang dengan ikat pinggang yang kuat. Dengan begitu, diharapkan kalau terjadi upaya memenuhi hasrat seksual akan “terhambat” sejenak karena harus membuka celana dan ikat pinggang. “Jika ‘terhambat’ seperti itu, diharapkan otaknya bisa cepat berpikir tentang dampak negatif bila melakukan hubungan pergaulan bebas. Akhirnya, mereka tidak jadi melakukan hubungan bebas,” tutur Boyke R. Dian Nugraha.

**

Bagaimanakah mencegah agar keperawanan tetap terjaga?

Sejumlah nara sumber “Hikmah” mengatakan, caranya sangat banyak tetapi semuanya itu bergantung pada faktor keseriusan perempuan yang bersangkutan dan lingkungan pergaulannya. Dari aspek perempuannya, berkaitan dengan sejauhmana persepsi terhadap nilai-nilai keperawanan. Sedangkan lingkungan pergaulan, itu berhubungan dengan interaksi sosialnya dengan lawan jenis, khususnya sang pacar.

Sedangkan pakar seks, Boyke R Dian Nugraha menyarankan agar para remaja selalu rajin memakai celana panjang dengan ikat pinggang yang kuat. Dengan begitu, diharapkan kalau terjadi upaya memenuhi hasrat seksual akan “terhambat” sejenak karena harus membuka celana dan ikat pinggang. “Jika ‘terhambat’ seperti itu, diharapkan otaknya bisa cepat berpikir tentang dampak negatif bila melakukan hubungan pergaulan bebas. Akhirnya, mereka tidak jadi melakukan hubungan intim seperti layaknya suami-istri,” tutur Boyke R Dian Nugraha kepada para remaja yang mengikuti sebuah diskusi seksualitas di Bandung, beberapa waktu lalu.

Sedangkan dalam perspektif Islam, menurut KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym, Red), hendaknya para remaja khususnya untuk benar-benar menjaga pergaulannya sehari-hari dengan lawan jenis. Untuk itulah, disarankan para remaja khususnya dan para orangtua menciptakan situasi yang kondusif bagi peningkatan pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam, terutama dalam kaitannya dengan pergaulan lawan jenis.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.