rereh

Just another WordPress.com site

“SEBUAH RENUNGAN AKAN VIRGINITAS” . “PERAWAN” sebuah makna tentang KEPERAWANAN dan KESUCIAN sebuah kaum HAWA By : Rereh Yudi Harjadi @rereh_harjadi April 11, 2012

Filed under: Uncategorized — Rereh Yudi Harjadi @ 12:41 am

Saya menulis ini sebagai bahan renungan untuk siapa saja yg membacanya, terutama untuk kaum laki-laki. Sebelumnya saya ingin memberitahu bahwa saya selaku penulis adalah seorang laki-laki. Jadi di sini saya tidak sedang ada di pihak siapa pun, karena saya menilai semuanya secara objektif.
Saya mempelajari banyak hal, salah satunya tentang bagaimana perilaku seseorang di berbagai aspek kehidupannya.

Ketika Makna Keperawanan Dimasalahkan

Filed under: Dunia Islam

    BEBERAPA waktu lalu kita dikejutkan oleh hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSC Pusbih) di Yogyakarta. Lepas dari hasil penelitian yang sempat diprotes karena dinilai kurang valid ini, ada fakta yang memperlihatkan, sebanyak 97,05 persen mahasiswa Yogyakarta hilang kegadisannya saat masih kuliah. Tragisnya, semua responden yang dinyatakan “hilang kegadisannya” itu melakukan hubungan seksual secara suka sama suka, tanpa paksaan dan “karena memang ada kebutuhan”. Itu hasil penelitian di Yogyakarta.

Kondisi nyaris serupa juga terjadi di salah satu pusat pendidikan yang ada di Jabar, Jatinangor. Menurut hasil penelitian yang dilakukan dr. Teddy Hidayat, lebih dari 75 persen responden mengaku melakukan hubungan seksual di luar nikah. Sementara itu, dari hasil penelitian sebuah LSM, lebih dari 50 persen pria yang sedang berpacaran menghendaki (bahkan memaksa) pasangan wanitanya melakukan “oral seks”. Jika permintaan itu ditolak, sang pria biasanya langsung memutus hubungan pacaran mereka. Hasil-hasil penelitian yang kita ambil secara acak dari Yogyakarta, Jatinangor, dan Kab. Bandung tersebut, sudah cukup kiranya membuat kita prihatin dengan kondisi yang dialami kalangan remaja kita. Fenomena tersebut seolah kian mendekati ungkapan kekhawatiran yang sering muncul dan kita dengar, bahwa remaja kita saat ini sangat jauh berbeda dengan remaja zaman dulu. Remaja sekarang seperti sudah menganggap bahwa hubungan seksual di luar nikah bukan lagi sesuatu yang “haram” dan menjaga “keperawanan” bukan lagi sebuah effort yang mulia dan berpahala. Hubungan seksual di luar nikah seolah menjadi sebuah pekerjaan yang mudah, lumrah, dan murah. Sementara urusan keperawanan dan kesucian tidak lagi menemukan ruang sakral dan terhormat yang mesti ditutup dan dikunci rapat. Ketika hubungan seksual di luar nikah tidak menimbulkan dampak-dampak yang tak diinginkan, sebut saja “kehamilan tak dikehendaki” (KTD), sepertinya para remaja tidak mendapat persoalan apa-apa. Bahkan karena menganggap tidak ada persoalan, hubungan seksual itu pun terus berlangsung. Persoalan baru muncul ketika hubungan seksual pranikah itu berbuah kehamilan. Ketika gejala kehamilan mulai tampak, biasanya remaja putri sudah menganggap bahwa masa depannya tervonis mati. Minimal, mereka merasa malu terhadap lingkungannya. Sekolah atau kuliah terancam gagal. Sementara hubungan dengan orang tua dan keluarga bisa berantakan. Sampai di sini, remaja putri dihadapkan pada sejumlah pilihan sulit. Bisa berupa tindakan darurat dengan menikah di usia dini, melakukan aborsi, atau tindakan lebih nekad, gantung diri. Karena permintaan aborsi tinggi, mendorong sejumlah dokter atau dukun melakukan tindakan malapraktik aborsi. Apabila ketahuan polisi, para dokter itu pun ditangkapi. Berdasarkan data di Centra Mitra Muda (CMM), sedikitnya ada 2,3 juta kasus aborsi tiap tahunnya di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekira 70 persennya terjadi pada remaja. Dalam kasus hamil di luar nikah (KTD), CMM melakukan poling terhadap 207 orang responden. Hasilnya, sebanyak 75,2% responden memilih menikah sebagai alternatif pemecahan KTD dan hanya 6,8% saja yang memilih aborsi sebagai alternatif. Tentu saja angka ini bertolak belakang dengan fakta di lapangan, dengan kecenderungan angka aborsi di Tanah Air, khususnya dilakukan kalangan remaja kian meningkat saja. Mengapa aborsi lebih banyak dipilih sebagai alternatif pemecahan masalah KTD pada remaja? Ada beberapa alasan. Salah satunya karena orang tua atau pihak keluarga merasa malu jika anaknya diketahui hamil sebelum nikah. Demi menjaga nama baik dan kehormatan itulah, sejumlah orang tua lebih memilih aborsi. Berkaitan dengan hubungan seksualitas di luar nikah serta dampak yang ditimbulkannya, remaja putri memang lebih nista dibandingkan remaja putra. Ketika proses hubungan seksual di luar nikah itu berlangsung dan berbuah kehamilan, pihak yang paling banyak menerima kerugian adalah remaja putri. Informasi hilangnya keperawanan seorang gadis atau remaja putri bisa menjadi faktor yang menurunkan “daya jual” gadis tersebut. Dalam kasus ini, pria memang hipokrit. Sebagai pihak yang turut berperan — bahkan sering mendominasi — bagi hilangnya keperawanan gadis/remaja, pria masih saja menuntut sesuatu yang hilang tersebut. Nilai-nilai di masyarakat sendiri memang masing menempatkan urusan keperawanan sebagai hal “segala-galanya” sehingga ketika “keperawanan” itu hilang, maka berarti pula “hilang seluruh hidup dan masa depannya”. Seorang calon mertua bisa menggagalkan acara pernikahan yang sudah dirancang jauh-jauh hari dan berbiaya besar hanya gara-gara pada saat akan dilakukan ijab kabul mengetahui bahwa calon menantunya sudah tidak perawan lagi. Sebaliknya, orang tua gadis/remaja putri “tidak pernah” mempersoalkan apakah calon menantu prianya itu sudah hilang keperjakaannya atau memang masih perjaka “tingting”. ** MENURUT Krisnani (mahasiswi Fikom Unisba- red), soal kegadisan tampaknya sudah tidak dipermasalahkan lagi oleh sebagian perempuan di Indonesia. Mereka ada yang sengaja “mengorbankan” kegadisannya demi sang pacar, padahal statusnya belum menikah. Bagi Hendrawati (alumni SMU 13 Bandung- red), ada sebagian perempuan melihat soal kegadisan itu bukan sesuatu yang penting. Bahkan, persoalan kegadisan sebenarnya bernuansa ketidakadilan. “Kaum perempuan sebenarnya juga ingin tanya tuh, sejauh mana kejantanan menjadi wacana yang layak dipersoalkan kepada kaum laki-laki,” ujar Hendrawati, yang bersama Krisnani sedang mengikuti job training di redaksi “PR”. Dalam pandangan aktivis perempuan, Tenry Jamilah Sholehah, persepsi masyarakat perempuan terhadap aspek keperawanan cenderung berhubungan erat dengan kiprahnya media massa cetak maupun elektronik. Pers yang memuat berita atau pernyataan yang isinya bersifat tidak menghargai keperawanan, tentunya sedikit atau banyak, akan membentuk persepsi yang tak jauh berbeda di kalangan pembacanya. “Apalagi kalau pembaca atau konsumen pers itu tidak memiliki latar belakang pendidikan yang memadai, pers jelas akan terus-terusan memasyarakatkan gaya hidup Barat yang cenderung bergaul bebas sehingga menganggap kecil soal kegadisan dan antara televisi dan media cetak, menurut saya jauh lebih dahsyat pengaruhnya yakni televisi dibandingkan media cetak. Karena televisi itu ada aspek audia-visual, sedangkan pers cetak gambarnya ‘mati’ atau tidak bergerak-gerak,” ungkap Tenry. Sementara kalau dilihat dari hubungan gender, menempatkan urusan “kesucian” dan “keperawanan” sebagai sesuatu yang identik dengan perempuan, jelas ini sangat diskriminatif. Status “gadis tapi bukan perawan” sering memojokkan pihak mereka karena jelas-jelas memperlihatkan stigma dalam masyarakat kita. Stigma itu terutama mengarah pada pandangan bahwa perempuan yang sudah tidak perawan dianggap sebagai “cewek murahan”, tak bisa menjaga diri atau akan sulit mendapatkan pasangan hidup. Hal sebaliknya, justru tidak terjadi pada laki-laki, yang tidak pernah sekalipun ditanyakan faktor “kesucian” atau “keperjakaannya”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada sebagian pendapat yang menyebutkan, diskriminasi demikian muncul lebih diakibatkan karena “faktor alat pembukti”. Pada kasus perempuan yang kehilangan keperawanan, konon katanya, relatif mudah dibuktikan, yakni salah satunya lewat pecahnya selaput dara wanita. Plus, tentu saja, jika hubungan seksual itu positif, bisa kian mudah terlihat dari perubahan perut wanita. Nah, pembuktian seperti ini sangat sulit dilakukan pada pria. Lalu, apa yang dimaksud keperawanan? Narasumber Hikmah di lingkungan dokter menyatakan, keperawanan itu berhubungan dengan eksistensi dan status selaput dara pada diri perempuan. Bagi masyarakat umum, seorang perempuan dinyatakan sudah tidak gadis apabila selaput daranya sudah sobek. “Karenanya, dulu pernah terjadi seorang istri penyanyi yang nekad menusukkan jarum ke jari tangannya tatkala berhubungan malam pertama. Harapannya, sang suami menyangka istrinya masih perawan. Ironisnya, upaya membohongi suami dengan cara mengeluarkan darah di jari tangan lalu menempelkan darahnya ke bagian sensitif perempuan, itu diketahui oleh suami. Akibatnya, perempuan itu diceraikan,” ujar seorang dokter ahli kandungan.

Menurut Mahmud Al Shabbagh dalam “Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam” (Al Sa’adah Al Jawjiyyah fi Al Islam: terbitan Dar Al I’tisham, Mesir, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991), selaput dara yang dimiliki oleh perempuan yang satu dangan lainnya, itu sangat berbeda. Ada yang sangat tipis sekali sehingga dapat terkoyak hanya dengan entakan yang keras atau terjerembab jatuh, tanpa ia rasa bahwa selaput daranya telah terkoyak. Ia baru mengetahuinya saat malam pertama sehingga sang suami menganggap dirinya tidak perawan lagi.

Ada pula selaput dara yang sangat elastis dan kuat, yang waktu terkoyaknya dapat dirasakan oleh perempuan tersebut karena selaput daranya hanya dapat terkoyak setelah melalui usaha yang cukup keras dan kuat dari suaminya. Juga ada selaput dara yang sangat elastis, yang tidak dapat terkoyak dengan cara apa pun meskipun seringkali dipakai untuk bercampur. Selaput dara itu tidak akan hilang, kecuali setelah ia melahirkan anak. Kadang-kadang perempuan sudah hamil dan pada saat yang sama selaput daranya masih utuh.

**

BAGAIMANAKAH pandangan agama tentang keperawanan? Mubalig,

Drs. H. Seproni Hidayat, dosen STAI Yamisa Soreang mengatakan, sesungguhnya banyak hadis Nabi Muhammad saw yang menegaskannya pentingnya makna keperawanan bagi seorang gadis hingga Nabi Muhammad mewanti-wanti kaum pria untuk lebih condong memilih perawan.

Anjuran Nabi Muhammad untuk lebih memprioritaskan menikahi gadis meski tidak melarang untuk menikahi janda, menurut Seproni, bisa diartikan sebagai upaya ajaran Islam lebih melindungi kaum wanita dari perbuatan zina. “Selain itu, dengan menikahi gadis yang masih perawan juga timbul gairah bagi pasangannya sekaligus menghilangkan sak wasangka negatif terhadap perempuan yang menjadi jodohnya,” jelasnya.

Malah Seproni memaknai pemilihan faktor kecantikan seorang perempuan juga bisa diartikan lahir dan batin termasuk faktor keperawanannya. “Jadi, salah apabila wanita atau kaum pria tidak lagi memandang penting arti sebuah keperawanan. Entah apa jadinya apabila gadis di Indonesia seperti gadis AS yang merasa lebih bangga apabila tidak lagi menjadi seorang perawan. Bukankah bangga tidak perawan lagi berarti hubungan di luar nikah atau zina juga merebak di masyarakat?” ujarnya. Padahal, ajaran Islam dengan tegas-tegas menyatakan “walaa taqrabuzzinaa” (jangan mendekati zina) yang bermakna luas bukan hanya sebatas melakukan hubungan di laur nikah, melainkan juga berdekatan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya (ada hubungan keluarga yang tak boleh dinikahi). “Dengan demikian ajaran Islam lebih banyak mencegah terjadinya sebuah perbuatan atau preventif. Mendekati zina saja tidak boleh, apalagi melakukannya,” tegasnya.

Menurut Psikolog Drs. Kadwi Djamuati, M.Pd., bila sebuah penelitian mengungkap bahwa ada anak perempuan usia 12 tahun yang telah melakukan aktivitas seksual menandakan masyarakat semakin permisif terhadap masalah seksual. Seks bebas yang dilakukan pada pranikah merupakan kurangnya pemahaman tentang pentingnya virginitas itu sendiri serta kurang adanya kontrol sosial.

Menjadi tidak mengherankan pula ketika hasil penelitian di Yogakarta, Jatinangor, dan Kab. Bandung, datanya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para remaja AS. Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa waktu lalu dengan melibatkan 505 remaja AS berusia 15-17 tahun, sebanyak 26 persen remaja menyatakan bahwa oral seks merupakan bagian dari hubungan kencan, sebanyak 23 persen lainnya menyatakan bahwa oral seks merupakan tipikal dari hubungan biasa atau istilahnya “cuma mampir”, sedangkan 27 persen responden lainnya menyatakan hubungan kencan hampir selalu atau kebanyakan melibatkan juga hubungan seksual dan 24 persen responden menyatakan hubungan seksual biasanya merupakan bagian dari sebuah hubungan biasa.

Namun, ada penelitian lain terbaru yang menyebutkan bahwa belakangan kalangan remaja di AS ada kecenderungan mulai meninggalkan perilaku seks bebas dan kembali ke hubungan konvensional dengan lebih mempertahankan dan mengharga “kesucian” atau “keperawanan” mereka hingga masa pernikahan. Ini tentu saja perkembangan baru yang justru malah menimbulkan ironi bagi remaja di Tanah Air. Ketika remaja di luar negeri, khususnya AS, sudah mulai “jenuh” dengan gaya kehidupan yang lebih kental dengan free sex dan kembali menghargai nilai-nilai keperawanan, justru remaja kita malah meninggalkan nilai-nilai yang menghargai keperawanan untuk kemudian mencoba terjun ke gaya kehidupan seks bebas. Jika begitu, salah siapa?

Bagaimanakah mencegah agar keperawanan tetap terjaga?

Sejumlah narasumber Hikmah mengatakan, caranya sangat banyak, tetapi semuanya itu bergantung pada faktor keseriusan perempuan yang bersangkutan dan lingkungan pergaulannya. Dari aspek perempuannya, berkaitan dengan sejauh mana persepsi terhadap nilai-nilai keperawanan, sedangkan lingkungan pergaulan berhubungan dengan interaksi sosialnya dengan lawan jenis, khususnya sang pacar.

Sementara itu, pakar seks Boyke R. Dian Nugraha menyarankan agar para remaja selalu rajin memakai celana panjang dengan ikat pinggang yang kuat. Dengan begitu, diharapkan kalau terjadi upaya memenuhi hasrat seksual akan “terhambat” sejenak karena harus membuka celana dan ikat pinggang. “Jika ‘terhambat’ seperti itu, diharapkan otaknya bisa cepat berpikir tentang dampak negatif bila melakukan hubungan pergaulan bebas. Akhirnya, mereka tidak jadi melakukan hubungan bebas,” tutur Boyke R. Dian Nugraha.

**

Bagaimanakah mencegah agar keperawanan tetap terjaga?

Sejumlah nara sumber “Hikmah” mengatakan, caranya sangat banyak tetapi semuanya itu bergantung pada faktor keseriusan perempuan yang bersangkutan dan lingkungan pergaulannya. Dari aspek perempuannya, berkaitan dengan sejauhmana persepsi terhadap nilai-nilai keperawanan. Sedangkan lingkungan pergaulan, itu berhubungan dengan interaksi sosialnya dengan lawan jenis, khususnya sang pacar.

Sedangkan pakar seks, Boyke R Dian Nugraha menyarankan agar para remaja selalu rajin memakai celana panjang dengan ikat pinggang yang kuat. Dengan begitu, diharapkan kalau terjadi upaya memenuhi hasrat seksual akan “terhambat” sejenak karena harus membuka celana dan ikat pinggang. “Jika ‘terhambat’ seperti itu, diharapkan otaknya bisa cepat berpikir tentang dampak negatif bila melakukan hubungan pergaulan bebas. Akhirnya, mereka tidak jadi melakukan hubungan intim seperti layaknya suami-istri,” tutur Boyke R Dian Nugraha kepada para remaja yang mengikuti sebuah diskusi seksualitas di Bandung, beberapa waktu lalu.

Sedangkan dalam perspektif Islam, menurut KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym, Red), hendaknya para remaja khususnya untuk benar-benar menjaga pergaulannya sehari-hari dengan lawan jenis. Untuk itulah, disarankan para remaja khususnya dan para orangtua menciptakan situasi yang kondusif bagi peningkatan pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam, terutama dalam kaitannya dengan pergaulan lawan jenis.

Suatu ketika saya menemukan sebuah thread di forum yg berisi tentang kekecewaan seorang laki-laki terhadap pasangannya.Dalam thread tesebut, dia bercerita tentang kehidupannya,di mana dia akan segera menikah tahun depan.

Namun 3 minggu yg lalu,calon istrinya memberitahukan sesuatu yg tdk pernah dia duga.Sebuah kenyataan pahit bahwa calon istrinya sudah tdk perawan lagi.

Mendengar hal tersebut,dia merasa sangat kecewa dan dipermainkan. Dan sudah selama tiga minggu tersebut, dia tdk mau menjawab telepon dan sms dari calon istrinya tersebut.

Dia tdk pernah melakukan tindakan yg di luar batas kewajaran terhadap calon istrinya yg dia jaga dan puja selama tiga tahun. Dan berita itu cukup membuatnya terpukul.

Dia pun meminta saran dari forum dan teman-temannya.Salah satu dari teman baiknya menyarankan dia untuk memutuskan hubungannya dengan calon istrinya. Dan ini membuatnya semakin ragu terhadap hubungannya.
Kasus ini mungkin bisa saja terjadi dalam kehidupan banyak orang dan mungkin banyak dari mereka yg mengalami kebingungan saat menghadapi masalah ini. Terutama untuk mereka,laki-laki yg tdk pernah melakukan hal-hal yg di luar batas kewajaran terhadap seorang wanita. Bagi yg sudah sering, mungkin masih bisa menerima keadaan ini, karena mungkin ada kecenderungan pemikiran bahwa itu adalah balasan yg memang harus mereka terima.

Terlepas dari pemikiran-pemikiran yg ada,kita harus tahu bahwa cinta adalah sebuah bentuk ketulusan.

Dalam hal ini calon istrinya salah,karena tdk memberitahu yg sebenarnya. Tapi saya yakin dia juga berada dalam posisi yg serba sulit. Dan pasti ada berbagai faktor yg menjadi bahan pertimbangan untuk tdk menceritakannya.

Dari pengalaman saya pribadi.Saya banyak menemui para wanita yg sudah tdk perawan lagi dan membuat pengakuan terhadap pasangan mereka. Dan apa yg mereka dapatkan? Sebuah penghinaan, penolakkan, dan pandangan rendah dari pasangannya.

Dan kalau sudah begitu, hal yg sering terjadi adalah sebuah pemanfaatan kesempatan. Pihak laki-laki yg tahu bahwa pasangannya sudah tdk perawan, malah menggunakan kesempatan itu untuk melakukan hal yg tdk wajar.

Lantas apa reaksi wanita? Mereka terpaksa mau atau mereka rela untuk diperlakukan secara tdk wajar. Sebagian dari mereka takut pasangannya marah jika menolak perlakuan tdk wajar dari pasangannya. Sebagian dari mereka merasa bersyukur karena ada yg mau menerima keberadaan mereka. Sebagian lagi takut pasangannya marah sekaligus merasa bersyukur karena pasangannya mau menerima keadaan mereka. Hal ini membuat kebanyakkan wanita jatuh ke dalam dosa yg sama berkali-kali.

Tapi setelah itu apa yg terjadi? Pasangan mereka malah meninggalkan mereka dengan berbagai alasan dan atau saat sudah merasa bosan. Perasaan cinta berubah menjadi nafsu semata tanpa atau dengan mereka sadari. Hanya untuk memuaskan hasrat bagi pihak laki-laki.

Saya sering kali mendengar banyak laki-laki yg mengeluh dan berkata pada saya bahwa mereka mau mencari wanita lain, padahal saat itu saya tahu kalau mereka sudah punya pacar yg cantik. Dan saat saya tanya alasannya, mereka menjawab bahwa mereka memacari pacarnya karena pacarnya cantik dan atau sexy.

Dan pada umumnya laki-laki menginginkan seorang wanita yg baik untuk menjadi istrinya, dan di saat pacaran mereka cenderung lebih suka dengan wanita yg cantik dan atau sexy yg bisa memuaskan hasrat mereka. Dengan kata lain wanita yg menjadi pacar mereka belum tentu akan dijadikan istri mereka.

Bagi semua laki-laki yg membaca tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yg seharusnya dijaga, disaygi, dan dicintai dengan catatan dan berbagai pertimbangan yg ada tentunya. Dan cinta bukanlah masalah perawan atau tdk, tapi bagaimana dengan hati dan perasaan Anda.

Jika memang Anda mencintai seorang wanita,maka jangan melihat masalalunya. Kenapa? Karena kita tdk hidup di masalalu,melainkan di masa sekarang dan di masa yg akan datang.Yg penting bukan bagaimana dia di masa lalunya, tapi bagaimana dia di masa sekarang dan di masa yg akan datang, dan bagaimana dia memperlakukan Anda.

Semua dari kita, baik laki-laki atau wanita, pasti pernah berbuat salah dan tdk mungkin luput dari kesalahan. Karena itu sebelum mengadili orang lain, lihatlah ke dalam diri kita terlebih dahulu dan pikirkan apa yg akan terjadi bila kita ada di posisi orang itu.

Saat kita berbuat salah,kita pasti berharap dan ingin dimengerti serta dimaafkan oleh orang lain,begitu juga sebaliknya. Jangan egois dan jangan merendahkan seorang wanita walau pun dia sudah tdk perawan.

Semua orang pada umumnya, pria atau wanita, lebih mudah untuk mengingat kekurangan dan kesalahan orang lain daripada mengingat kelebihan dan kebaikkannya. menganggap tinggi diri sendiri dan merendahkan orang lain.
Bagi pihak laki-laki, jangan menilai seberapa besar pengorbanan yg sudah Anda berikan untuk pasangan Anda,tapi nilailah berapa banyak dan seberapa tulus cinta yg telah pasangan Anda beri untuk Anda.

Dan untuk para wanita, jagalah diri kalian.Jangan mudah dirayu oleh laki-laki. Sekali pun sudah tdk perawan,bukan berarti harus merelakan diri kalian untuk diperdaya laki-laki.

Banyak dari para wanita yg berpikir bahwa dia sudah tdk perawan, jadi tdk ada masalah untuk melakukan hubungan di luar nikah dengan pacar barunya atau dengan orang yg dia sukai dengan alasan cinta.

Saya sering mengatakan pada wanita yg saya kenal, bahwa jika kita berperilaku baik, maka kita akan memancing yg baik. Dan jika kita berperilaku buruk, maka kita akan memancing yg buruk. Dengan melakukan hubungan di luar nikah sebelum waktunya, akan membuat seorang wanita sulit menentukan apakah pasangannya menjalin hubungan dengannya berdasarkan nafsu atau karena cintanya memang benar-benar tulus.
Saya tdk mengatakan bahwa semua laki-laki seperti itu, hanya saja sebagian besar dari mereka berperilaku seperti itu, sehingga untuk para wanita harus lebih bijak dan selektif dalam menentukan dan memilih pasangan.

Kebanyakkan laki-laki selalu mempertanyakan tentang keperawanan seorang wanita dan hal ini seolah menjadi masalah yg benar-benar serius. Sedangkan wanita tdk mempermasalahkan bagaimana status laki-laki tersebut, apakah dia masih perjaka atau tdk.
Sebagai seorang laki-laki, coba kita berpikir. Apakah itu adil? Sebelum kita menghakimi dan menilai mereka. Wanita bukan barang. Tdk ada istilah baru atau bekas.

Untuk para wanita, kalian harus tahu perbedaan mendasar tentang perasaan antara pria dan wanita. Seorang pria, sekali dia tdk suka, maka apa pun yg Anda perbuat dan korbankan, tdk akan mengubah perasaannya terhadap Anda. Tapi lain halnya dengan seorang wanita, mereka dapat belajar untuk mencintai pasangannya walau pun awalnya mereka tdk cinta.

Pada dasarnya, hal yg membedakan antara laki-laki dan wanita hanya pada jenis kelamin mereka saja.Tapi ternyata hal itu dapat mengubah keseluruhan hidup mereka karena berbagai faktor yg ada.Perbedaan ini juga mendasari perbedaan sudut pandang yg sering kali dijadikan jurang pemisah.

Padahal pada kodratnya,laki-laki dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi.Seperti halnya siang dan malam,tdk ada yg lebih baik atau lebih buruk.Semua mempunyai kelebihan dan fungsinya masing-masing.
Pasangan yg baik adalah pasangan yg dapat melihat kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan menggunakan kelebihannya untuk menutupi kekurangan pasangannya. Sehingga mereka dapat saling melengkapi, bukan menilai siapa yg lebih baik dan buruk.

Untuk para laki-laki,ikutilah kata hati kalian. Jangan termakan perkataan orang lain, karena belum tentu orang tersebut benar dan tahu permasalahan secara jelas.Kita boleh saja mendengar masukkan orang lain sebagai saran, tapi keputusan tetap ditentukan oleh diri kita sendiri.

Karena Anda dan pasangan Andalah yg menjalani hubungan cinta Anda dengan pasangan Anda,bukan orang lain.

Keperawanan bukanlah tolak ukur kebaikkan dan hati seorang wanita.
Untuk para wanita yg membaca tulisan ini, jangan pernah menilai bahwa dunia ini tdk adil.Karena semua yg tercipta adil adanya. Semua yg ada punya perannya masing-masing. Kita sebagai manusialah yg membuat perbedaan dan ketidakadilan itu.

Buat kalian semua yg peduli dengan kaum wanita, tolong forward ke semua teman-teman wanita Anda. Semoga berguna.

Ini adalah sebuah realita yg saya tuangkan ke dalam sebuah tulisan berdasarkan pengalaman saya dari curhat banyak orang termasuk adik2 angkat saya…. Saya tdk sedang menyinggung siapa pun, saya hanya berharap pria lebih menghargai wanita dan sebaliknya wanita jangan mudah terbujuk oleh rayuan para pria yg manis namun menyesatkan.

 

 

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s